Monday, 9 February 2009

Proses Terjadinya Muka Bumi


Assalaumalikum....

PROSES TERJADINYA MUKA BUMI

A. PENGANTAR SEJARAH TERBENTUKNYA MUKA BUMI
1. Teori lempeng tektonik
a. Teori Alfred Wegener (Tahun 1910)
Menurut Wegener, benua-benua terdiri dari batuan sial yang terapung pada batuan sima yang lebih besar berat jenisnya. Benua-benua itu bergerak menuju khatulistiwa dan ke bagian barat. Pada zaman karbon, kemungkinan besar hanya ada satu benua, yaitu Pangaea.

b. Teori Contracties
Menurut teori ini, bumi kita mengalami penyusutan (berkerut). Karena faktor pendinginan, terjadilah pegunungan-peganungan dan lembah-lembah. Teori ini tidak mendapat dukungan dari para ahli geologi.

c. Teori Eduard Suess (1831-1914)
Suess adalah ahli geologo Austria yang menciptakan teori tentang pegunungan dan hubungannya satu sama lain. Ia tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa bumi telah berkembang melalui serangkaian bencana alam. Dia melihat benua sebagai sebuah daerah yang stabil, kecuali daerah seismik, yaitu daerah yang sering terjadi gempa bumi. Teori Suess ini merupakan pengembangan dari teori contracties.

d. James Dana (1813-1895)
Ahli geologi Amerika yang termashur dengan , karyanya yang berjudul Sistem Mineralogi ini, berpendapat bahwa pemandangan alam dibentuk oleh proses pelapukan dan erosi. Pendahulunya beranggapan bahwa bencana alam tidak terduga, seperti gempa bumi yang ikut mempengaruhi pembentukan permukaan bumi.

B. PROSES TERJADINYA BUMI
a. Teori Nebula
Teori ini mengatakan bahwa, anggota tata surya pada awalnya berbentuk massa gas yang bercahaya dan berputar perlahan-lahan. Massa yang berangsur-angsur mendingin, mengecil, dan mendekati bentuk bola. Rotasi massa ini semakin lama semakin tinggi. Akibatnya, bagian tengah massa ini menggelembung. Akhirnya, lingkaran materi itu terlempar keluar. Lingkaran ini mendingin, mengecil, dan akhirnya jadi planet.
Planet ini tetap mengorbit mengelilingi inti massa. Lalu, lingkaran lain terlempar dan terlempar lagi dari pusat massa dan menjadi seluruh planet, termasuk bumi. Akhirnya, semua planet terbentuk. Pusat massa menjadi matahari kita. Selanjutnya, planet-planet itu juga melemparkan massa keluar angkasa dan berubah menjadi satelit atau bulan.

b. Teori Planetesimal
Teori ini menyatakan bahwa suatu ketika sebuah bintang melintasi ruang angkasa dengan cepat dan berada dekat sekali dengan matahari. Daya tarik bintang ini sangat besar sehingga menyebabkan pasang di bagian di bagian panas matahari. Akibatnya, massa gas terlempar dari matahari dan mulai mengorbit. Karena daya tarik matahari, massa gas itu tertahan dan bergerak mengelilingi matahari.
Ketika massa gas menjadi dingin,bentuknya berubah menjadi cairan dankemudian memadat. Akhirnya, massa itu menjadi planet yang ada sekarang, termasuk planet kita.

c. Teori Pasang
Teori ini juga didasarkan atas ide benturan. Teori ini mengatakan bahwa planet-planet terbentuk langsung oleh gas asli matahari yang tertarik oleh sebuah bintang yang melintasnya di dekatnya. Jadi, teori ini awalnya hampir sama dengan teori Planetesimal. Perbedaannya adalah pada teori ini tidak terbentuk oleh planetesimal.
Menurut teori ini, ketika bintang mendekat, atau bahkan menyerempet matahari kita, tarikan gravitasinya menyedot filament gas yang berbentuk cerutu panjang. Filamen yang membesar di bagian tangahnya dan mengecil di kedua ujungnya, filament inilah yang akhirnya membentuk sebuah planet.



d. Teori Lyttleton
Teori ini mengatakan bahwa matahari mulanya berupa bintang kembar yang mengelilingi sebuah medan gravitasi. Sebuah bintang menabrak salahsatu bintang kembar dan mungkin menghancurkannya. Bintang yang hancur itu berubah menjadi massa gas yang berputar-putar. Karena terus berputar, gas ini menjadi dingin dan terbentuklah planet.
Adapun bintang yang bertahan menjadi matahari kita. Karena kekuatan gravitasinya, matahari menahan planet yang terbentuk dan beredar menurut lintasannya sekarang. Jadi, jelaslah bahwa teori ini juga didasarkan atas ide benturan.

d. Teori Awan Debu
Teori ini mengatakan bahwa calon Tata Surya semula merupakan awan yang sangat luas. Awan yang terdiri atas debu dan gas kosmos itu diperkirakan berbentuk seperti sebuah piring. Ketidakteraturan dalam awan itu menyebabkan terjadinya perputaran. Debu dan gas yang berputar berkumpul menjadi satu.
Sementara debu dan gas itu terus berputar, hilanglah awannya. Partikel-partikel debu yang keras saling berbenturan, melekat, dan kemudian menjadi planet. Berbagai gas yang terdapat di tengah awan berkembang menjadi matahari.

1. Asal Muasal Bumi
Menurut anggapan dari beberapa teori, bumi terbentuk akibat malapetaka, misalnya sebuah bintang hampir bertabrakan dengan matahari (teori terdahulu). Teori malapetaka yang lain mengatakan bahwa pada suatu ketika matahari memiliki teman berupa sebuah bintang, yang kemudian meledak dan meninggalkan sedikit bahan yang terjebak dalam pengitaran mengelilingi matahari. Bahan itulah yang mungkinmenjadi planet yang beredar saat ini.

2. Stuktur Bumi
Pada abad ke-20, berkembang ilmu baru tentang bumi yang dikenal dengan teori Lempeng Tektonik. Teori ini dapat menerangkan tentang bagaimana fenomena bumi yang sebelumnya masih kabur.
Bagian bumi yang padat, dengan jari-jari 6.420 km terdiri atas lapisan sebagai berikut :

a. Kerak samudera, tebal 10 km
b. Kerak benua, tebal 40 km
c. Litosfer, tebal 70 km (lapisan sial)
d. Astenosfer, tebal 180 km
e. Zona transisi, tebal 450 km
f. Mantel / selimut bawah bumi, tebal 2.200 km (chalcosfer / payung bumi)
g. Inti besi cair, tebal 2.080 km (barysfer / inti bumi)
h. Inti besi padat, tebal 1.390 km (barysfer / inti bumi)

Huruf a, b, c, d dan e disebut juga litosfer. Huruf d dan e disebut lapisan sima, karena mengandung silisium magnesium dansial yang mengandung silisium aluminium .


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komenter Kamu

Kumpulan Situs Penting
My Photo
Watampone
Dengan segala kerendahan hati kami mohon maaf atas segala kekurangan kami. Blog ini dibuat hanya untuk saling memberi sedikit informasi kepada teman-teman. Tak ada sedikitpun di dalamnya bertujuan untuk sebuah materil Berkarya tanpa batas, tanpa penindasan