Monday, 23 March 2009

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW DI KELAS X SMA NEGERI 2 P

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat pesat dan menyeluruh telah menyentuh setiap aspek kehidupan manusia. Tidak terkecuali pada bidang pendidikan dan pengajaran. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai teori dan konsep-konsep pemikiran yang baru dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas sumber daya manusia bangsa tersebut. Peningkatan sumber daya manusia dapat ditempuh melalui pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Oleh karena itu pendidikan seharusnya bersifat semesta, menyeluruh dan terpadu. Namun saat ini, pendidikan masih menyimpan masalah yang belum terpecahkan, baik dari segi penyelenggaraannya maupun mutu keluarannya yang belum seluruhnya memenuhi harapan.
Diantara masalah pendidikan yang paling menonjol dalam setiap usaha pembaharuan Sistem Pendidikan Nasional adalah kualitas dan efektivitas model pembelajaran. Berbagai upaya perbaikan telah dilakukan, salah satunya perbaikan revisi kurikulum yang telah dilakukan beberapa kali dengan harapan dapat meningkatkan kualitas out put. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan apa yang dicita-citakan masih jauh dari harapan. Tidak sedikit bukti yang menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh siswa tidak cocok dengan kemampuan yang dimilikinya.
Demikian halnya yang terjadi pada SMA Negeri 2 pinrang, hasil belajar geografi sampai saat ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan nilai yang diperoleh siswa pada mata pelajaran lain. Berdasarkan data empiris semester I, nilai yang dicapai dengan nilai rata-rata kelas untuk pelajaran geografi hanya sebesar 50,05. hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal dari siswa (hasil ujian semester I kelas X SMA Negeri 2 Pinrang).
Permasalahan di atas perlu diupayakan pemecahannya, salah satunya yaitu melakukan tindakan yang dapat mengubah suasana pembelajaran yang melibatkan siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran, Hal ini dapat dilakukan melalui pembelajaran dengan menghadapkan siswa pada obyek yang nyata (melakukan percobaan) serta melibatkan pengetahuan awal (prior knowledge) siswa.
Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat oleh siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Pihak-pihak yang terlibat dalam pembelajaran adalah pendidik serta peserta didik yang berinteraksi edukatif antara satu dengan yang lainnya. Isi kegiatan adalah bahan (materi) belajar yang bersumber dari kurikulum suatu program pendidikan.
Salah satu model pembelajaran yang baik digunakan dalam penyajian materi geografi adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). “Cooperative mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama” (Hamid Hasan dalam Solihatin, 2007 : 4). Dalam penyajian materi geografi melalui kegiatan cooperative, siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Jadi, “belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut” Johnson (Solihatin 2007 : 4). Sehubungan dengan pengertian tersebut, Slavin (Solihatin 2007 : 4) mengatakan bahwa “cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 - 6 orang, dengan struktur kelompoknya bersifat heterogen”. Selanjutnya dikatakan pula, keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok.
Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau prilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Cooperative learning juga dapat diartikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan diantara sesama anggota kelompok.
Model belajar cooperative learning merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya mengenai materi pelajaran geografi, sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat. Sehingga dengan bekerja secara bersama-sama diantara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi, produktivitas, dan perolehan hasil belajar. Model belajar cooperative learning mendorong peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ditemui selama pembelajaran, karena siswa dapat bekerja sama dengan siswa lain dalam menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan terhadap masalah materi pelajaran geografi yang dihadapi.
Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa masih sangat banyak guru yang menggunakan model pengajaran konvensional, dimana hanya guru yang aktif. Sehingga hasil belajar siswa kurang memuaskan.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul ”Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Pada mata Pelajaran Geografi dengan Menggunakan Model Cooperative Learning Tipe jigsaw Kelas X SMA Negeri 2 Pinrang. Dimana dalam penelitian ini nantinya akan membahas tentang materi litosfer.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka secara umum permasalahan yang akan diupayakan jawabannya dalam penelitian ini adalah
1. Bagaimana hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi dengan menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw di kelas X SMA Negeri 2 Pinrang?
2. Apakah ada peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi dengan menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw di kelas X SMA Negeri 2 Pinrang.
3. Bagaimana perubahan sikap belajar siswa pada mata pelajaran geografi dengan menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw kelas X SMA Negeri 2 Pinrang.

C. Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dari permasalahan di atas, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah :
4. Untuk mengetahui gambaran hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi dengan menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw di kelas X SMA Negeri 2 Pinrang?
5. Untuk mengetahui apakah ada peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi dengan menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw di kelas X SMA Negeri 2 Pinrang.
6. Untuk mengetahui perubahan sikap yang terjadi mengenai cara belajar siswa pada mata pelajaran geografi dengan menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw kelas X SMA Negeri 2 Pinrang.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat memberikan konstribusi atau bahan masukan bagi guru bidang studi geografi SMA demi penyempurnaan dan perbaikan dalam mengefektifkan model-model pembelajaran yang berkaitan dengan pelajaran geografi.
2. Bagi siswa, dapat meningkatkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual terhadap pemahaman konsep-konsep geografi dan peningkatan kreativitas melalui penerapan model cooperative learning.
3. Bagi sekolah, dapat meningkatkan mutu pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran geografi.
4. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan perbandingan dan referensi khususnya yang akan mengkaji masalah yang relevan.

BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS


A. KAJIAN TEORI
a. Belajar
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Slameto (2003:2) “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang uintuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”
Selanjutnya, Oemar Hamalik (2007:1-2) menguraikan pengertian belajar menjadi dua, yaitu :
1. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini, belejar merupakan suatu proses, suatuy kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
2. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Pengertian ini menitikberatkan pada interaksi antara individu dengan lingkungannya.

Kemudian Skinner (dalam Syah, 2003:64) berpendapat bahwa “belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif”. Chaplin, 1972 (dalam Syah : 65) membatasi belajar dengan dua macam rumusan, yang berbunyi :
1. Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman.
2. Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus.
“Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi)” (Sagala, 2005:11). Gage (1984) dalam (Sagala, 2005:13) berpendapat bahwa: “belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman”. Sedangkan Henry E. Garret (dalam Sagala :13) mengatakan bahwa: “belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu”.
Hintzman (1978) dalam Syah (2003:65) mengartikan “belajar adalah suatu perubahan yang terjadi di dalam diri organisme, manusia, dan hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut”. Sejalan dengan itu, Wittig (dalam Syah, 2003:66) berpendapat bahwa “belajar ialah perubahan yang relatiuf menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman”.
Lebih lanjut Biggs (1991) dalam Syah (2003 : 27-28) mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu :
1. Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemmapuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
2. Secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses validasi (pengabsahan) terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa telah belajar dapat diketahui dalam hubungannya dengan proses mengajar.
3. Secara kualitatif (tinjauan mutu), belajar ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dumia di sekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.

Dari pengertian di atas dapat dibuat kesimpulan bahwa agar terjadi proses belajar atau terjadinya perubahan tingkahlaku sebelum kegiatan belajar mengajar di celas seorang guru perlu menyiapkan atau merencanakan berbagai pengalaman belajar yang akan diberikan pada siswa dan pengalaman belajar tersebut harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses belajar itu terjadi secara internal dan bersifat pribadi dalam diri siswa, agar proses belajar tersebut mengarah pada tercapainya tuj uan dalam kurikulum maka guru harus merencanakan dengan seksama dan sistematis berbagai pengalaman belajar yang memungkinkan perubahan tingkahlaku siswa sesuai dengan apa yang diharapkan. Aktifitas guru untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal disebut dengan kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain pembelajaran adalah proses membuat orang belajar. Guru bertugas membantu orang belajar dengan caramemanipulasi lingkungan sehingga siswa dapat belajar dengan mudah, artinya guru harus mengadakan pemilihan terhadap berbagai strategi pembelajaran yang ada, yang paling memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal.
William Burton (dalam Oemar Hamalik, 2007 : 31-32) menyimpulkan uraiannya yang cukup panjang tentang prinsip-prinsip belajar sebagai berikut :
a. Proses belajar ialah pengalaman, berbuat, mereaksi, dan melampaui (under going)
b. Prose situ melalui bermacm-macam ragam pengalaman dan mata pelajaran-mata pelajaran yang terpusat pada suatu tujuan tertentu.
c. Pengalaman belajar secara maksimum bermakna bagi kehidupan siswa.
d. Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan siswa sendiri yang mendorong motivasi yang kontinu.
e. Proses belajar dan hasil belajar disyarati oleh hereditas dan lingkungan.
f. Proses belajar dan hasil usaha belajar secara materil dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan individual di kalangan siswa.
g. Proses belajar berlangsung secara efektif apabila pengalaman-pegalaman dan hasil-hasil yang diinginkan disesuaikan dengan kematangan siswa.
h. Proses belajar yang terbaik apabila murid mengatahui status dan kemajuan.
i. Proses belajar merupakan suatu kesatuan fungsional dari berbagai prosedur.
j. Hasil-hasil belajar secara fungsional bertalian satu sama lain, tetapi dapat didiskusikan secara terpisah.
k. Proses belajar berlangsung secara efektif di bawah bimbingan yang merangsang dan membimbing tanpa tekanan dan paksaan.
l. Hasil-hasil belajar adalah pola-pola pembuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan.
m. Hasil-hasil belajar diterima oleh murid apabila memberi kepuasan pada kebutuhannya dan berguna serta bermakna baginya.
n. Hasil-hasil belajar dilengkapi dengan jalan serangkaian pengalaman-pengalaman yang dapat dipersamakan dan dengan pertimbangan yang baik.
o. Hasil-hasil belajar yang lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan yang berbeda-beda.
p. Hasil-hasil belajar yang telah dicapai adalah bersifat kompleks dan dapat berubah-ubah (adaptable), jadi tidak sederhana dan statis.






b. Pembelajaran Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosopi) pendekatan CTI dimana pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan yaitu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Bertolak dari prinsip-prinsip dasar pada setiap komponen pada pendekatan CTL tersebut, kata-kata kunci (keywords) yang dapat dipakai sebagai pengingat guru ketika melaksanakan pembeiajaran berbasis CTL adalah sebagai berikut :
a. Belajar pada hakikatnya adalah real-word learning, yaitu belajar dari kenyataan yang bisa diamati, dipraktekkan, dirasakan, dan diuji coba.
b. Belajar adalah mengutamakan pengalaman nyata, bukan penga¬laman yang hanya diangan-angankan saja, yang tidak bisa dibuktikan secara empiris.
c. Belajar adalah berpikir tingkat tinggi, yaitu berpikir kritis yang mengedepankan siklus inquiry mulai dari mengamati, bertanya, mengajukan dugaan sementara (hipotesis), mengumpulkan data, menganalisis data, sampai dengan merumuskan kesimpulan (teori).
d. Kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa, yaitu pembelajaran yang memberikan kondisi yang memungkinkan siswa melakukan serangkaian kegiatan secara maksimal.
e. Kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan siswa untuk aktif, kritis, dan kreatif.
f. Kegiatan pembelajaran menghasilkan pengetahuan bermakna dalam kehidupan siswa.
g. Kegiatan pembelajaran harus dekat dengan kehidupan nyata.
h. Kegiatan pembelajaran harus bisa menunjukkan perubahan perilaku siswa sesuai yang diinginkan.
i. Kegiatan pembelajaran diarahkan pada siswa untuk praktek, bukan meng¬hafal.
j. Pembelajaran bisa menciptakan siswa belajar (learning), bukan guru mengajar (teaching).
k. Sasaran pembelajaran adalah pendidikan (education), bukan pengajaran (instuction).
Model-model pembelajaran kontruktivisme yaitu :
1. Pembelajaran model sinetik.
2. Pembelajaran berdasarkan masalah.
3. Pembelajaran kontekstual.
4. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning).
c. Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning)
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Menurut Slavin (1995) dalam Isjoni (2007 : 15) “cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4–6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar”. Jumlah yang paling tepat menurut hasil penelitian Slavin, hal itu dikarenakan kelompok yang beranggotakan 4-6 orang lebih sepaham dalam menyelesaikan suatu permasalahan dibandingkan dengan kelompok yang beranggotakan 2-4 orang.
Cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Cooperative learning merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran. Dalam cooperative learning, belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Unsur-unsur dasar dalam cooperative learming menurut Lungdren (Isjoni, 2007 : 13) sebagai berikut :
a. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”
b. Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
d. Para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab di antara para anggota kelompok.
e. Para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.
f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar.
g. Setiap siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

“Cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam cooperative learning harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota kelompok” slavin (1983) Stahl (1994) dalam Solihatin (2007 : 4).

Disamping itu, pola hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk berhasil berdasarkan kemampuan dirinya secara individual dan sumbangsih dari anggota lainnya selama mereka belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Stahl (1994) dalam Isjoni (2007 : 5) mengatakan bahwa “model pembelajaran cooperative learning menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar”.
Bennet (Isjoni, 2007 : 41) menyatakan ada lima unsur dasar yang dapat membedakan cooperative learning dengan kerja kelompok, yaitu :
1. Positif interdependence.
Yaitu hubungan timbal balik yang didasari adanya kepentingan yang sama atau perasaan diantara anggota kelompok dimana keberhasilan seseorang merupakan keberhasilan yang lain pula atau sebaliknya.
2. Interaction face to face
yaitu interaksi yang langsung terjadi antar siswa tanpa adanya perantara.
3. Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok.
Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok sehingga siswa termotifasi untuk membantu temannya, karena tujuan dalam cooperative learning adalah menjadikan setiap anggota kelompoknya menjadi lebih kuat pribadinya.
4. Membutuhkan keluwesan.
Yaitu menciptakan hubungan antar pribadi, mengembangkan kemampuan kelompok, dan memelihara hubungan kerja yang efektif.
5. Meningkatkan keterampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok).
Yaitu tujuan terpenting yang diharapkan dapat dicapai dalam cooperative learning adalah siswa belajar keterampilan bekerjasama dan berhubungan ini adalah keterampilan yang penting dan sangat diperlukan di masyarakat.

Selanjutnya Muhammad Nur, dkk, (2001 : 2) memberikan perbedaan antara kelompok pembelajaran kooperatif dan kelompok tradisional yaitu:
Kelompok pembelajaran kooperatif :
1. Kepemimpinan bersama.
2. Saling ketergantungan yang positif.
3. Keanggotaan yang heterogen .
Kelompok tradisional
1. Satu pemimpin.
2. Tidak ada saling ketergantungan.
3. Keanggotaan yang homogen.

Sedangkan pembelajaran kooperatif menurut Blosser (1992), Slavin (1997), dan Arend (2000) dalam Ibrahim (2000 : 3) mengatakan bahwa pembelajaran model kooperatif terdiri beberapa tipe yaitu:
1. Pembelajaran kooperatif, tipe penyelidikan kelompok.
2. Pembelajaran kooperatif, tipe TGT.
3. Pembelajaran kooperatif, tipe JIGSAW.
4. Pembelajaran kooperatif, tipe TPS.
5. Pembelajaran kooperatif, tipe NHT.
6. Pembelajaran kooperatif, tipe STAD.



d. Pembelajaran Jigsaw
Pembelajaran kooperatif Tipe jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa untuk aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Dalam model belajar ini terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya yaitu :
Tahap Pertama
siswa dikelompokkan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Pembentukan kelompok-kelompok siswa tersebut dapat dilakukan guru berdasarkan pertimbangan tertentu.
Untuk mengoptimalkan manfaat belajar kelompok, keanggotan kelompok seyogyanya heterogen, baik dari segi kemampuannya maupun karakteristik lainnya. Dengan demikian, cara yang efektif untuk menjamin heterogenitas kelompok ini adalah guru membuat kelompok-kelompok itu. Jika siswa dibebaskan membuat kelompok sendiri maka biasanya siswa akan memilih teman-teman yang sangat disukainya misalnya sesama jenis, sesama etnik, dan sama dalam kemampuan.
Hal ini cenderung menghasilkan kelompok-kelompok yang homogen dan seringkali siswa tertentu tidak masuk dalam kelompok manapun. Oleh karena itu, memberikan kebebasan siswa untuk membentuk kelompok sendiri bukanlah cara yang baik, kecuali guru membuat batasan-batasan tertentu sehingga dapat menghasilkan kelompok-kelompok yang heterogen. Pengelompokan secara acak juga dapat digunakan, khususnya jika pengelompokan itu terjadi pada awal tahun ajaran baru dimana guru baru sedikit mempunyai informasi tentang siswa-siswanya.
Jumlah siswa yang bekerja sama dalam masing-masing kelompok harus dibatasi, agar kelompok-kelompok yang terbentuk dapat bekerja sama secara efektif, karena suatu ukuran kelompok mempengaruhi kemampuan produktivitasnya. Soejadi (2000) dalam Isjoni (2007 : 55) mengemukakan, “jumlah anggota dalam satu kelompok apabila makin besar, dapat mengakibatkan makin kurang efektif kerjasama antar para anggotanya”.
Tahap kedua
Pada tahap ini, setiap anggota kelompok ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu. Kemudian siswa-siswa atau perwakilan dan kelompoknya masing-masing bertemu dengan anggota-anggota dan kelompok yang lain yang mempelajari materi yang sama. Selanjutnya materi tersebut didiskusikan mempelajari serta memhami setiap masalah yang dijumpai sehingga perwakilan tersebut dapat memahami dan menguasai materi tersebut.
Tahap ketiga
Pada tahap ketiga, setelah masing-masing perwakilan tersebut dapat menguasai materi yang ditugaskan kepadanya, kemudian masing-masing perwakilan tersebut kembali ke kelompok masing-masing atau kelompok asalnya. Selanjutnya masing-masing anggota kelompok tersebut saling menjelaskan pada teman sekelompoknya, sehingga teman sekelompoknya dapat memahami materi yang ditugaskan oleh guru.
Tahap keempat
Pada tahap selanjutnya siswa diberi tes/kuis, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah siswa sudah dapat memahami suatu materi. Dengan demikian, secara umum penyelenggaraan model belajar jigsaw dalam proses belajar mengajar dapat menumbuhkan tanggung jawab siswa sehingga terlibat langsung secara aktif dalam memahami suatu persoalan dan menyelesaikannya secara kelompok.
Adapun kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran tipe jigsaw diantaranya adalah :
7. Kelebihan
- Siswa lebih aktif saat proses belajar mengajar berlangsung
- Siswa akan lebih menguasai materi yang diberikan
- Terjalin komunikasi yang baik antar sesama siswa
8. Kekurangan
- Siswa terkadang hanya menguasai materi tertentu saja.
- Dibutuhkan waktu yang lama pada saat proses berlangsung




e. Kompetensi Dasar Litosfer
a. Struktur Litosfer
Berdasarkan komposisi penyusunnya, bumi dibagi menjadi tiga lapisan. Lapisan teratas disebut litosfer, lapisan kedua disebut mesosfer, lapisan yang terdalam disebut atenosfer. Litosfer merupakan lapisan yang sangat tipis, bersifat kaku, padat, keras dan kuat. Litosfer terdiri atas batuan yang relatif lebih ringan dibanding astenosfer dan mesosfer.
“Litosfer adalah lapisan bumi paling luar yang tebalnya kurang lebih 48 km dengan gravitas antara 2,0 – 3,0. Biasanya dibedakan atas dua lapisan, yaitu sial dan sima”. (Marbun : 144). Sedangkan (Hafid : 178) menyatakan bahwa “litosfer mempunyai ketebalan antara 40 – 80 km atau rata-rata 60 km. Bagian litosfer yang tebal terletak dibawah benua mencapai 80 km. Bagian litosfer yang paling tipis adalah di bawah dasar lautan yang tebalnya kurang lebih 40 km”.
Litosfer dibentuk oleh berbagai unsur. Sebagian besar lapisan ini terdiri atas sekelompok mineral yang disebut silikat (SiO ). Silikat merupakan gabungan antara oksigen dan silikon. Selain silikon, terdapat pula unsur lainnya seperti oksigen, aluminium, besi, kalsium, sodium, magnesium, posfor, sulfur, mangan, karbon, potassium, titanium dan hidrogen.

b. Tenaga Pengubah Bentuk Permukaan Bumi
1) Tenaga endogen
Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi dan biasanya bersifat membangun. Tenaga endogen terdiri dari 2 tenaga, yaitu tenaga tektonisme dan vulkanisme.
a) Tektonisme
Tektonisme adalah tenaga yang bekerja dari dalam bumi dengan arah vertical maupun lateral (mendatar) yang mengakibatkan perubahan lokasi atau letak lapisan batuan yang membentuk permukaan bumi. Menurut Haarman (Kusnadi : 60) “yang dimaksud dengan tektonisme adalah terjadinya dislokasi batuan di dalam bumi”. Dislokasi adalah perubahan posisi atau letak dari kompleks batuan, baik yang mengakibatkan putusnya hubungan batuan atau tidak. Tenaga tektonik terdiri atas 2 macam, yaitu orogenesis dan epirogenesis.
- Orogenesis
Orogenesis atau pembentukan pegunungan, yaitu tenaga geologi yang bekerja di areal yang relative sempit dengan kecepatan yang relative cepat. Proses orogenesis membentuk lipatan dan juga patahan tergantung kea rah mana tenaga itu bergerak.



- Epirogenesis
Epirogenesis atau pengankatan dan penurunan benua yaitu tenaga endogen yang bekerja di daerah yang relative luas dengan kecepatan yang relative lambat.
b) Vulkanisme
Vulkanisme adalah peristiwa yang berhubungan dengan pembentukan gunung api, yaitu aktivitas magma yang bergerak dari lapisan dalam litosfer menyusup ke lapisan yang lebih atas sampai ke permukaan bumi.
Hal-hal yang berhubungan dengan vulkanisme :
- magma
- intrusi magma
- ekstrusi magma
c. Bentuk muka bumi akibat tenaga seisme
Proses endogen lainnya sebagai tenaga pembentuk bentang alam di permukaan bumi adalah gempa. Gempa merupakan gerakan kulit bumi secara tiba-tiba akibat adanya patahan atau letusan yang diikuti serangkaian getaran yang dirambatkan hingga kepermukaan bumi.
Klasifikasi gempa
a) berdasarkan penyebabnya, gempa dapat dibedakan menjadi :
- gempa tektonik
- gempa vulkanik
- gempa runtuhan
b) berdasarkan hiposentrumnya, gempa dapat dibedakan menjadi :
- gempa dalam
- gempa intermediet
- gempa dangkal
c) berdasarkan bentuk episentrumnya, gempa dapat dibedakan menjadi :
- gempa linier
- gempa sentral
d) berdasarkan jarak episentrumnya, gempa dapat dibedakan menjadi :
- gempa setempat
- gempa jauh
- gempa sangat jauh
e) berdasarkan letak episentrumnya, gempa dapat dibedakan menjadi :
- gempa laut
- gempa darat.
2) Tenaga eksogen
Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi yang biasanya bersifat merusak. Factor-faktor yang berperan sebagai tenaga eksogen adalah air, angin, organisme, sinar matahari dan es.


a) Pelapukan
Pelapukan adalah peristiwa penghancuran massa batuan, baik secara fisika, kimiawi maupun secara biologi. Ada empat macam factor yang mempengaruhi terjadinya pelapukan batuan, yaitu :
- keadaan struktur batuan
- keadaan iklim
- keadaan topografi
- keadaan vegetasi
b) erosi
erosi adalah peristiwa terlepas atau terbawanya runtuhan batuan oleh suatu tenaga di permukaan bumi, misalnya air, angina, dan gletser. Air yang mengalir di sungai melakukan erosi terhadap batuan yang dilaluinya baik bagian tepi ataupu bagian dasar sungai.
c) denudasi dan tanah longsor
denudasi adalah peristiwa pengelupasan batuan induk yang telah mengalami proses pelapukan akibat pengaruh aliran sungai, panas, matahari, angin, hujan, embun, beku dan es yang bergerak ke laut.
d) sedimentasi dan pengendapan
“Sedimentasi merupakan pengendapan material yang dibawa oleh angin, air, atau gletser” (Marah Uli : 91). Proses sedimentasi dapat terjadi di daratan, di danau, di sekitar sungai atau di pantai. Bahan-bahan yang diangkut oleh aliran air, gelombang, arus laut, angin, serta gletser, pada suatu waktu akan diendapkan di suatu tempat. Proses sedimentasi terjadi bila zat-zat pengangkut mengalami penurunan kecepatan.
Jenis-jenis sedimentasi :
- sedimentasi fluvial
- sedimentas eolis
- sedimentasi marine

B. HIPOTESIS
Terdapat peningkatan hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 2 Pinrang dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning tipe Jigsaw










BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian tindakan yang berbasis kelas (classroom action research) yang bersifat deskriptif dan bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas X SMU Negeri 2 Pinrang menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw.

B. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMU Negeri 2 Pinrang pada siswa kelas X 3 semester genap tahun pelajaran 2007/2008 dengan jumlah siswa 40 orang.

C. Faktor Yang Diteliti
Untuk mampu menjawab permasalahan tersebut di atas, beberapa faktor yang ingin diselidiki adalah sebagai berikut :
1. Faktor input, yaitu kehadiran dan peningkatan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw
2. Faktor proses, yaitu melihat bagaimana keaktifan siswa dalam proses pembelajaran melalui metode cooperative learning tipe jigsaw.
3. Faktor output, yaitu bagaimana ketuntasan belajar siswa setelah dilaksanakan pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw.
D. Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Pinrang yang terletak di jalan poros Pinrang–Sidrap Kecamatan Tiroang Kabupaten Pinrang. Pelaksanaan penelitian ini mulai dari bulan Februari dan berahir pada bulan April 2008.

E. Bentuk dan Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kelas dengan bentuk penelitian tindakan. Dalam menerapkan model cooperative learning pada pembelajaran pertama, sama dengan yang diterapkan pada pembelajaran kedua dan pembelajaran ketiga, hanya refleksi terhadap setiap pembelajaran berbeda tergantung dari fakta dan interpretasi data yang ada atau situasi dan kondisi yang dijumpai dilokasi penelitian. Hal ini dilakukan agar diperoleh hasil yang maksimal mengenai cara penggunaan model cooperative learning tipe jigsaw.
Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap dalam penelitian dengan menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw adalah sebagai berikut :



































Gambar 3.1. Desain Penelitian Tindakan Kelas
(Supardi, 2007 : 16)





F. Prosedur Kerja
Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa prosedur yaitu :
(1) Perencanaan (2) pelaksanaan tindakan (3) observasi (4) evaluasi.
GAMBARAN SIKLUS I
Siklus pertama berlangsung selama 3 kali pertemuan (3 jam pelajaran), dengan rincian : pertemuan pertama dan kedua dilakukan penyajian materi, dan pada pertemuan ketiga dilakukan tes akhir siklus I.
1. Tahap perencanaan
a. Menelaah materi mata pelajaran geografi kelas X SMA semester genap berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) agar dapat diketahui materi apa yang akan diajarkan.
b. Menentukan materi yang akan diajarkan dalam tahap I melalui model pembelajaran kooperatif dengan pokok bahasan litosfer.
c. Melakukan diskusi dengan guru mata pelajaran geografi pada sekolah lokasi penelitian dengan tujuan mengalokasikan waktu yang digunakan dengan model cooperative learning.
d. Mempersiapkan perangkat pembelajaran yakni Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Yang akan digunakan selama proses belajar-mengajar berlangsung dalam penelitian ini.
e. Sebelum memulai proses pembelajaran peneliti melakukan pertemuan untuk mengetahui keadaan siswa ketika proses pembelajaran geografi berlangsung.
f. Membuat format observasi untuk merekam bagaimana kondisi belajar mengajar dikelas ketika pelaksanaan tindakan berlangsung.
g. Merancang dan membuat soal, baik soal latihan kelas, soal tugas pekerjaan rumah, LKS (lembar kegiatan siswa) dan kuis yang akan diberikan.
h. Mempersiapkan alat, bahan dan media pembelajaran.
2. Tahap pelaksanaan tindakan
Pada saat pelaksanaan tindakan untuk siklus ini, yang pertama dilakukan peneliti adalah menjelaskan kepada siswa tujuan yang ingin dicapai untuk materi pada pelajaran hari itu. Kemudian guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil, dan setiap kelompok tersebut mencatat, memahami dan menyelesaikan soal-soal yang berkenaan dengan materi tersebut. Selanjtnya setiap kelompok mempersentasekan hasil diskusi kelompoknya dan ditanggapi oleh kelompok lain. Selama proses tersebut berlangsung, guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting baik mengenai kegiatan siswa selama diskusi maupun tanggapan yang diberikan oleh siswa yang lain.
3. Tahap observasi
Pada tahap ini dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Proses observasi pada saat siswa mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. .
b. Mengevaluasi siswa dengan materi-materi yang telah diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
c. Menganalisis data hasil observasi dan tes evaluasi siswa untuk mengetahui skor akhir yang diperoleh.
4. Tahap refleksi
Hasil yang dicapai pada tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis. refleksi yang dimaksud adalah pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan siswa, dan kemudian menjadi bahan pertimbangan untuk merumuskan rencana perbaikan pada tahap selanjutnya.
GAMBARAN SIKLUS II
Pada prinsipnya kegiatan dalam siklus II ini adalah pengulangan langkah kerja siklus sebelumnya yang telah mengalami perbaikan dan pengembangan yang disesuaikan dengan hasil refleksi dari siklus I. Siklus kedua berlangsung selama 3 kali pertemuan (3 jam pelajaran), dengan rincian : pertemuan pertama dan kedua penyajian materi, dan pada pertemuan ketiga dilakukan tes akhir siklus II.
GAMBARAN SIKLUS III
Seperti pada siklus sebelumnya kegiatan dalam siklus III ini adalah pengulangan langkah kerja siklus pertama dan kedua yang telah mengalami perbaikan dan pengembangan yang disesuaikan dengan hasil refleksi dari siklus II. Siklus ketiga berlangsung selama 3 kali pertemuan (3 jam pelajaran), dengan rincian : pertemuan pertama dan kedua penyajian materi, dan pada pertemuan ketiga dilakukan tes akhir siklus III.

G. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Data tentang hasil belajar geografi yang diperoleh dengan menggunakan tes hasil belajar pada setiap akhir tahap.
b. Untuk data mengenai keaktifan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti proses belajar akan diambil pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan pedoman observasi.

H. Analisa Data
Data hasil prestasi belajar geografi dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar siswa adalah berdasarkan teknik kategorisasi skala lima. Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan menengah (Depdikbud, 2004 : 23) bahwa skor standar umum yang digunakan adalah skala lima yaitu pembagian tingkat penguasaan yang terbagi atas lima kategori, yaitu :
85 – 100 dikategorikan sangat baik
65 – 84 dikategorikan baik
55 – 64 dikategorikan cukup
35 – 54 dikategorikan kurang
0 – 34 dikategorikan sangat kurang
I. Indikator Keberhasilan
Indikator dari penilaian ini adalah apabila terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar geografi dari tahap pertama ke tahap kedua. Perlakuan dianggap berhasil apabila mencapai nilai ketuntasan individu mencapai 65 dan ketuntasan secara klasikal harus mencapai 85% dari 40 siswa.

















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



A. Gambaran Umum Lokasi
1. Letak dan Luas Wilayah
Kabupaten Pinrang berada pada 4010’30’’ - 30019’13’’ lintang selatan dan 119026’30’’ - 119047’20’’ Bujur Timur. Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Pinrang yaitu : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Enrekang dan kabupaten Sidenreng Rappang Sebelah Selatan berbatasan dengan kota Parepare, sebelah Barat berbatasan dengan selat Makassar dan Provinsi Sulawesi barat. Luas wilayah Kabupaten Pinrang 1.961,77 km2. Secara administrasi Kabupaten Pinrang terdiri dari 12 kecamatan, 104 desa/kelurahan dimana 39 berstatus kelurahan 65 berstatus desa. salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Pinrang adalah kecamatan Tiroang merupakan tempat dilaksanakannya penelitian ini.
Kecamatan Tiroang merupakan salah satu kecamatan yang ada dalam wilayah Kabupaten Pinrang. Wilayah Kecamatan Tiroang memiliki luas 77,73 km2 yang terdiri dari lima kelurahan yaitu : Kelurahan Tiroang, Kelurahan Mattiro Deceng, Kelurahan Fakkie, Kelurahan Pammase, Kelurahan Marawi. Adapun batas wilayah Kecamatan Tiroang sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Patampanua, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidrap, Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Paleteang dan Kecamatan Sawitto, Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Mattiro bulu. Sebagian besar wilayah Kecamatan Tiroang merupakan dataran rendah dengan ketinggian 13 -23 m dpl.
(BPS Propinsi Sul-Sel, 2006)

2. Gambaran Umum Lokasi SMA Negeri 2 Pinrang.
SMA Negeri 2 Pinrang terletak dikelurahan Mattiro Deceng yang merupakan ibukota kecamatan Tiroang. Adapun batas-batas wilayah kelurahan Mattiro Deceng yaitu : sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Tiroang dan Kelurahan Fakkie, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Watang Sawitto dan Kelurahan Fakkie, sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Marawi, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Pammase. Sekolah ini didirikan pada tahun 1997 dengan nomor statistik 301191404805 dan SK NO. 13a/0/1998 tanggal 29 januari tahun 1998.
Letak SMA Negeri 2 Pinrang dianggap cukup strategis, dimana letaknya berada di ibukota kecamatan dengan luas tanah adalah 7328 m2 dengan luas bangunan sekolah adalah 2044 m2. Keadaan gedung SMA Negeri 2 Pinrang merupakan bangunan yang permanen dengan keadaan lingkungan yang baik, selain itu bangunan yang mengelilingi sekolah ini atau batas-batas lingkungan sekitar sekolah adalah :

a. Sebelah utara berbatasan dengan jalan poros Pinrang – Rappang.
b. Sebelah timur berbatasan dengan areal pemukiman dan persawahan.
c. Sebelah selatan berbatasan dengan SMP Negeri 3 Pinrang.
d. Sebelah barat berbatasan dengan areal pemukiman.
Sejak berdirinya hingga sekarang SMA Negeri 2 Pinrang telah mengalami pergantian pemimpin sebanyak empat kali yaitu : Tahun 1997 ¬- 2001 dipimpin oleh Drs. H. Sofyan Tang, tahun 2001 - 2003 dipimpin oleh Drs. H. Mahmud Bandu, tahun 2003 - 2005 dipimpin oleh Drs. H. Sappe Beddu, tahun 2005 sampai sekarang dipimpin Drs. M. Darwis L.

3. Fasilitas
Dalam hal kepemilikan fasilitas, SMA Negeri 2 Pinrang memiliki fasilitas yang dapat dikategorikan cukup memadai untuk berlangsung proses belajar mengajar di sekolah, berikut ini fasilitas gedung dan bangunan sekolah yang terdapat dalam lingkungan SMA Negeri 2 Pinrang
Sarana dan prasarana pendidikan dalam suatu sekolah memegang peranan penting dalam menunjang keberhasilan dalam proses belajar mengajar sekalipun siswa dan guru berlimpah ruah tetapi sarana dan prasarana tidak ada, tujuan pendidikan tidak akan tercapai dengan sempurna.
Sarana dan prasarana yang dimiliki SMA Negeri 2 Pinrang ajaran 2007/2008 adalah :




Tabel 1. Keadaan fasilitas SMA Negeri 2 Pinrang Tahun Ajaran 2007/2008
No Fasilitas Ruangan Jumlah Fasilitas Belajar Jumlah
1 Ruang Kelas untuk belajar 11 Unit Alat peraga IPA 15 Buah
2 Ruang Kepala Sekolah 1 Unit Alat praktek kesenian 15 Buah
3 Ruang Wakil Kepala Sekolah 1 Unit Alat praktek penjaskes 10 Buah
4 Ruang Tata Usaha 1 Unit Audio player/ radio 2 Buah
5 Ruang BK 1 Unit Video player/ televisi 2 Buah
6 Ruang Guru 1 Unit Komputer 15 Buah
7 Ruang Perpustakaan 1 Unit Display/ mading 1 Buah
8 Ruang Laboratorium IPA 1 Unit Perpustakaan 1 Buah
9 Ruang Laboratorium Bahasa 1 Unit
10 Mushallah 1 Unit
11 Lapangan olah raga 1 Unit
12 Kantin 3 Unit
13 Dapur 1 Unit
14 Ruang Pertemuan/ Serba Guna 1 Unit
15 Gudang / WC 2 Unit
Sumber Data : Kantor Tata Usaha SMU Negeri 2 Pinrang Tahun Ajaran 2007/2008
4. Siswa
Siswa SMA Negeri 2 Pinrang sebagian besar adalah mereka yang telah diterima berdasarkan seleksi Nem tertinggi. Jumlah dari seluruh siswa Siswa SMA Negeri 2 Pinrang tahun ajaran 2007/2008 adalah 426 orang dapat kita lihat pada tabel berikut :


Tabel 2. Jumlah Siswa SMA Negeri 2 Pinrang
Kelas
Jumlah Siswa
Total Jumlah Ruangan
Laki-Laki
Perempuan
I
74 84 158 4
II 71 83 154 4
III 51 63 114 3
Jumlah
196 230 426 11
Sumber : Buku Registrasi SMA Negeri 2 Pinrang
Dari tabel 2 di atas menjelaskan bahwa, jumlah siswa kelas 1 setiap ruangan terdiri dari 39 – 40 siswa. Kelas 2 jumlah siswa terdiri dari 37 – 40 siswa setiap ruangan, dan kelas 3 jumlah siswa terdiri dari 36 - 39 siswa setiap ruangan.
5. Personil
Staf SMA Negeri 2 Pinrang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru-guru, dan staf tata usaha, pegawai tetap dan satpam, jumlah keselurahan adalah 37 orang dengan perincian sebagai berikut
Tabel 3 . Jumlah Tenaga Pembina SMA Negeri 2 Pinrang
Jabatan
Jumlah Tenaga Pembina
Kepala Sekolah
1
Wakil Kepala Sekolah 1
Guru Tetap 25
Guru Tidak Tetap 3
Staf Tata Usaha 4
Pegawai Tidak Tetap 2
Satpam 1
Jumlah
37
Sumber : Buku Registrasi SMA Negeri 2 Pinrang






































































B. PENYAJIAN HASIL
1. Hasil Analisis Kuantitatif
a. Analisis Statistik Deskriptif
1) hasil tes akhir siklus I.
Pada tes akhir siklus ini, diperoleh gambaran tentang kemampuan pemahaman siswa kelas X3 yang menjadi subjek penelitian. Tes akhir siklus ini diikuti oleh semua siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang yang berjumlah 40 orang. Adapun data skor hasil tes siswa pada tes siklus I ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4. statistik hasil tes siswa pada siklus I
Statistik
Nilai statistik
Subjek
Nilai ideal
Nilai tertinggi
Nilai terendah
Rentang nilai
Nilai rata-rata
Median
Standar deviasi 40
100
85
30
40
52
55
11,11
Dari tabel 4. diatas kita dapat memperoleh gambaran mengenai tingkat kemampuan dan pemahaman setelah diterapkan model pembelajaran cooperative tipe jigsaw. Pada siklus I ini nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 57,325 dari nilai ideal (nilai maksimum) yang mungkin dicapai oleh siswa adalah 85, skor terendah adalah 30, dengan standar deviasi 11,11.
Setelah nilai responden dikelompokkan ke dalam lima kategori yang ditetapkan oleh direktorat jendral pendidikan dasar dan menengah, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase nilai pada tabel di bawah ini.
Tabel 5. distribusi frekuensi dan persentase nilai tes siklus I.
No Interval nilai Kategori Frekuensi Persentase
1
2
3
4
5 85 - 100
65 – 84
55 – 64
35 – 54
0 - 34 Sangat baik
Baik
Cukup
rendah
Sangat rendah 1
7
10
21
1 2,5%
17,5%
25%
52,5%
2,5%
Jumlah 40 100%
Berdasarkan tabel 5 di atas dapat dikemukakan bahwa dari 40 siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang terdapat sekitar 2,5% yang penguasaan materinya masuk dalam kategori sangat rendah, 52,5% masuk dalam kategori rendah, 25%masuk dalam kategori cukup, 17,5% masuk dalam kategori baik dan 2,5% masuk dalam kategori sangat baik.
Selanjutnya untuk melihat jumlah siswa yang mencapai standar ketuntasan belajar individual pada akhir siklus I dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini :
Tabel 6. Frekuensi dan persentase Ketuntasan Belajar Individual siswa pada siklus I.
No
Kriteria
Frekuensi
Persentase
1
Tuntas
8
20%
2
Tidak tuntas
32
80%
Jumlah
40
100%
Berdasarkan tabel 6 diatas dapat dikemukakan bahwa dari 40 orang siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang terdapat sekitar 8 atau 20% siswa yang mencapai nilai standar ketuntasan belajar individual yang ditetapkan oleh dinas pendidikan nasional yaitu 65,0. Sedangkan siswa yang belum mencapai nilai standar ketuntasan belajar individual sebanyak 32 orang atau sekitar 80%
2) Hasil tes akhir siklus II.
Siklus II ini merupakan lanjutan dari siklus I, sehingga dari hasil tes pada siklus II kita bias melihat begaimana perkembangan kemampuan pemahaman siswa kelas X3 terhadap mata pelajaran Geografi setelah tindakan kelas yaitu penerapan pembelajaran dengan model cooperative tipe jigsaw pada materi litosfer. Tes akhir siklus ini sdiikuti oleh semua siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang yang berjumlah 40 orang. Adapun data skor hasil tes siswa pada tes siklus II ini dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini :


Tabel 7. statistik Hasil Tes Siswa Pada Siklus II
Statistik Nilai statistik
Subjek
Nilai ideal
Nilai tertinggi
Nilai terendah
Rentang nilai
Nilai rata-rata
Median
Standar deviasi 40
100
85
35
50
59,25
62,5
10,81
Dari tabel 7. diatas kita dapat memperoleh gambaran mengenai tingkat kemampuan dan pemahaman setelah diterapkan model pembelajaran cooperative tipe jigsaw. Pada siklus II ini, terjadi perubahan perolehan hasil tes siswa. Dimana nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah dari nilai ideal (nilai maksimum) yang mungkin dicapai oleh siswa adalah 85, skor terendah adalah 35, dengan standar deviasi 10,81.
Setelah nilai responden dikelompokkan ke dalam lima kategori yang ditetapkan oleh direktorat jendral pendidikan dasar dan menengah, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase nilai pada tabel di bawah ini.



Tabel 8. Distribusi frekuensi dan persentase nilai tes siklus II.
No Interval nilai Kategori Frekuensi Persentase
1
2
3
4
5 85 -100
65 – 84
55 – 64
35 – 54
0 - 34 Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang 1
14
12
13
- 2,5%
35%
30%
32,5%
-
Jumlah 40 100%
Berdasarkan tabel 8. di atas dapat dikemukakan bahwa dari 40 siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang terdapat sekitar 32,5% yang penguasaan materinya masuk dalam kategori kurang, 30%masuk dalam kategori cukup, 35%kategori baik dan 2,5% masuk dalam kategori sangat baik
Selanjutnya untuk melihat jumlah siswa yang mencapai standar ketuntasan belajar individual pada akhir siklus II dapat dilihat pada tabel 9. berikut ini :
Tabel 9. Frekuensi dan Persentase Ketuntasan Belajar Individual
Siswa pada siklus II.
No Kriteria Frekuensi Persentase
1 Tuntas 15 37,5%
2 Tidak tuntas 25 62,5%
Jumlah 40 100%
Berdasarkan tabel 9. diatas dapat dikemukakan bahwa dari 40 orang siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang terdapat 15 atau 37,5% siswa yang mencapai nilai standar ketuntasan belajar individual yang ditetapkan oleh dinas pendidikan nasional yaitu 65,0. sedangkan siswa yang belum mencapai nilai standar ketuntasan belajar individual sebanyak 25 orang atau sekitar 62,5%
3) Hasil tes akhir siklus III.
Siklus III ini merupakan lanjutan dari siklus II, sehingga dari hasil tes pada siklus III kita bisa melihat bagaimana perkembangan kemampuan pemahaman siswa kelas X3 terhadap mata pelajaran Geografi setelah tindakan kelas yaitu penerapan pembelajaran dengan model cooperative tipe jigsaw pada materi litosfer. Tes akhir siklus ini diikuti oleh semua siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang yang berjumlah 40 orang. Adapun data skor hasil tes siswa pada tes siklus III ini dapat dilihat pada tabel 10. berikut ini :
Tabel 10. Statistik Hasil Tes Siswa Pada Siklus III
Statistik Nilai statistik
Subjek
Nilai ideal
Nilai tertinggi
Nilai terendah
Rentang nilai
Nilai rata-rata
Median
Standar deviasi 40
100
90
30
60
68,625
75
10,78
Dari tabel 10. diatas kita dapat memperoleh gambaran mengenai tingkat kemampuan dan pemahaman setelah diterapkan model pembelajaran cooperative tipe jigsaw. Pada siklus III ini, terjadi perubahan perolehan hasil tes siswa. Dimana nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 68,625 dari nilai ideal (nilai maksimum) yang dicapai oleh siswa adalah 90, skor terendah adalah 30, dengan standar deviasi 10,78.
Setelah nilai responden dikelompokkan ke dalam lima kategori yang ditetapkan oleh direktorat jendral pendidikan dasar dan menengah, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase nilai pada tabel di bawah ini.
Tabel 11. Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Tes Siklus III.
No Interval nilai Kategori Frekuensi Persentase
1
2
3
4
5 85 -100
65 – 84
55 – 64
35 – 54
0 - 34 Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang 3
31
3
2
1 7,5%
77,5%
7,5%
5%
2,5%
Jumlah 40 100%
Berdasarkan tabel 11. di atas dapat dikemukakan bahwa dari 40 siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang terdapat sekitar 2,5% yang penguasaan materinya masuk dalam kategori sangat kurang, 5% masuk dalam kategori kurang, 7,5% masuk dalam kategori cukup, 77,5% kategori baik dan 7,5% masuk dalam kategori sangat baik
Selanjutnya untuk melihat jumlah siswa yang mencapai standar ketuntasan belajar individual pada akhir siklus II dapat dilihat pada tabel 12. berikut ini :
Tabel 12. Frekuensi dan Persentase Ketuntasan Belajar Individual
Siswa Pada siklus III
No Kriteria Frekuensi Persentase
1 Tuntas 34 85%
2 Tidak tuntas 6 15%
Jumlah 40 100%
Berdasarkan tabel 12. diatas dapat dikemukakan bahwa dari 40 orang siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang terdapat sekitar 34 atau 85% siswa yang mencapai nilai standar ketuntasan belajar individual yang ditetapkan oleh dinas pendidikan nasional yaitu 65,0. sedangkan siswa yang belum mencapai nilai standar ketuntasan belajar individual sebanyak 6 orang atau sekitar 15%
Untuk melihat perubahan yang terjadi dari hasil belajar geografi siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang pada setiap siklus dapat dilihat pada tabel berikut ini :



Tabel 13. Hasil Belajar Geografi Siswa Pada Setiap Siklus
Siklus Nilai perolehan siswa kategori Siswa yang mencapai standar ketuntasan belajar individual
Maksimum Minimum Rata-rata
I 85 30 57,5 Sedang 8
II 85 35 60 Sedang 15
III 90 30 60 Sedang 34
Dari tabel 13 di atas terlihat adanya perubahan hasil ujian geografi siswa dari setiap siklus. Pada tabel 13 tersebut terlihat bahwa pada akhir siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 57,5 berada pada kategori sedang, pada akhir tes siklus II nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 60 berada pada kategori sedang, sedangkan pada akhir tes siklus III nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 60 berada pada kategori sedang. Dari tabel 13 di atas juga terlihat bahwa siswa yang nilai ujiannya mencapai nilai standar ketuntasan belajar individual juga bertambah jumlahnya, yaitu dari 8 orang pada siklus I menjadi 15 orang pada siklus II kemudian bertambah menjadi 34 orang pada siklus III.
Hasil ini sekaligus memberikan gambaran bahwa penelitian ini telah mencapai hasil yang maksimal. Dimana jumlah siswa yang mencapai nilai standar ketuntasan belajar individual yang ditentukan oleh Dinas Pendidikan Nasional sebanyak 34 telah mencapai standar ketuntasan belajar klasikal yaitu 85% dari keseluruhan siswa.
b. Analisis Statistik Inferensial
Hasil analisis statistik inferensial tentang peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi dengan menggunakan model coopative learning tipe jigsaw di SMA Negeri 2 Pinrang digunakan statistik parametrik yaitu uji Anava (analisis Varians).
Tabel 15 tabel Analisis Varians
Sumber varians d f j k k t f
Rata-rata
Antar kelompok
Dalam kelompok 1
2
117 426616,88
5641,25
14266,87 426616,88
2820,625
121,93
23,133
Total 120 49.420.900
F hit = 23,133
F tab = 3,076
Karena F hit > F tab maka Ho ditolak dan H1 diterima.
Jadi, ada peningkatan hasil belajar geografi siswa kelas X3 SMU Negeri 2 Pinrang dengan menggunakan model cooperative learning tipe jigsaw.
2. Hasil Analisis Kualitatif
Pada bagian ini membahas tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa kelas X3 SMA Negeri 2 pinrang selama diterapkannya model cooperative learning tipe jigsaw. Pembahasan yang dimaksud merupakan data kualitatif yang diperoleh dari lembar observasi siswa yang dicatat oleh peneliti pada setiap pertemuan selama proses pembelajaran berlangsung dari tiap-tiap siklus. Adapun perubahan-perubahan tersebut adalah :
a. Tingkat kehadiran siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dan siklus III
b. Perhatian siswa dalam mengikuti proses pembelajaran juga mengalami peningkatan dari siklus I, siklus II dan siklus III. Hal ini terlihat pada beberapa hal berikut :
- jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan dan tanggapan kepada guru dari siklus I ke siklus II dan siklus III mengalami peningkatan.
- Jumlah siswa yang mengerjakan tugas rumah juga meningkat dari siklus I, siklus II dan siklus III.
- Siswa yang aktif memberikan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan materi yang dipelajari juga mengalami peningkatan.
- Siswa yang mengajukan diri untuk mengerjakan soal di papan tulis juga mengalami peningkatan.
c. Kerjasama dan komunikasi siswa dalam kelompok semakin terjalin yang ditandai dengan adanya beberapa siswa yang bertanya dan meminta penjelasan kepada teman kelompoknya berkaitan dengan materi yang diberikan.


d. Perubahan sikap siswa
Peningkatan prestasi belajar siswa di kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang dapat dilihat dari perubahan sikap siswa mulai dari siklus I, II dan III. Untuk lebih jelasnya lihat tabel dibawah ini :
Tabel 14. perubahan sikap siswa siklus I, II & III
No Komponen yang diamati
(dari 40 orang siswa) SIKLUS KE
I
(% rata-rata) II
(% rata-rata) III
(% rata-rata)
1 Siswa yang hadir pada saat pembelajaran 96,6% 99% 100%
2 Siswa yang memperhatikan pembahasan materi 37,5% 48,75% 85%
3 Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi 62,5% 51,25% 17,5%
4 Siswa yang menjawab pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran 5% 10% 15%
5 Siswa yang meminta untuk dijelaskan kembali suatu konsep yang telah dibahas 6,25% 6,25% 3,75%
6 Siswa yang mengajukan pertanyaan pada saat pembelajaran. 6,25% 7,5% 15%
7 Siswa yang bekerjasama dan berpartisipasi dalam kelompoknya 28,75% 42,5% 87,5%
Lihat lampiran II : lembar observasi
Dari tabel 14 diatas terlihat adanya perubahan sikap siswa dari setiap siklus. Pada tabel 14 diatas terlihat bahwa perubahan siswa pada siklus I, Siswa yang hadir pada saat pembelajaran 96,6%, Siswa yang memperhatikan pembahasan materi 37,5%, Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi 62,5%, Siswa yang menjawab pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran 5%, Siswa yang meminta untuk dijelaskan kembali suatu konsep yang telah dibahas 6,25%, Siswa yang mengajukan pertanyaan pada saat pembelajaran 6,25%, Siswa yang bekerjasama dan berpartisipasi dalam kelompoknya 28,75%. Pada siklus II Siswa yang hadir pada saat pembelajaran 99%, Siswa yang memperhatikan pembahasan materi 48,75%, Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi 51,25%, Siswa yang menjawab pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran 10%, Siswa yang meminta untuk dijelaskan kembali suatu konsep yang telah dibahas 6,25%, Siswa yang mengajukan pertanyaan pada saat pembelajaran 7,5%, Siswa yang bekerjasama dan berpartisipasi dalam kelompoknya 42,5%. Sedangkan pada siklus III Siswa yang hadir pada saat pembelajaran 100%, Siswa yang memperhatikan pembahasan materi 85%, Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi 17,5%, Siswa yang menjawab pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran 15%, Siswa yang meminta untuk dijelaskan kembali suatu konsep yang telah dibahas 3,75%, Siswa yang mengajukan pertanyaan pada saat pembelajaran 15%, Siswa yang bekerjasama dan berpartisipasi dalam kelompoknya 87,5%.
Secara umum pelajaran geografi dengan menggunakan model kooperatif tipe jigsaw pada siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang, sudah bisa meningkatkan perubahan sikap siswa dalam mengikuti pelajaran didalam kelas.
3. Refleksi pelaksanaan tindakan dalam proses belajar geografi
a. Refleksi siklus I
Pada pertemuan pertama diawali dengan penjelasan atau sosialisasi kepada siswa kelas X3 SMA Negeri 2 Pinrang yang menjadi subjek penelitian tentang pembelajaran kooperatif pada mata pelajaran geografi. Setelah siswa mengerti, siswa kemudian dikelompokkan secara acak. Pada pertemuan pertama ini siswa diberikan materi tentang struktur litosfer. Setelah diberikan materi, siswa kemudian melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan prosedur pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Setelah selesai siswa kemudian diberikan tugas dan mereka diberikan kesempatan untuk mempersentasekan hasil kerja kelompoknya dan kelompok lain menanggapi. Pada pertemuan pertama ini diskusi berjalan lancar dan tidak terlalu banyak tanggapan karena sebagian besar kelompok bisa menyelesaikan tugasnya dengan benar.
Pada pertemuan kedua diawali dengan membahas soal-soal pekerjaan rumah yang dianggap sulit. Setelah itu, siswa kemudian mengerjakan soal-soal pada LKS secara berkelompok dengan kelompok yang sama seperti pertemuan pertama. Pada pertemuan kedua ini diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan dari siswa karena mereka kurang mengerti dengan soal yang diberikan. Dimana soal tersebut menyangkut struktur litosfer. Setelah semua kelompok selesai mengerjakan soal, mereka diberi kesempatan untuk mempersentasekan jawaban mereka di papan tulis, kemudian kelompok lain menanggapi.
Pada pertemuan ketiga ini dilakukan tes hasil belajar siklus I yang diikuti oleh semua siswa kelas X3 yang berjumlah 40 orang. Tapi sebelumnya, siswa diberi kesempatan untuk mempelajari kembali materinya kurang lebih 10 menit dan bertanya jika ada materi yang belum dimengerti selama ini.
b. Refleksi siklus II
Pada pembelajaran siklus II pada dasarnya sama dengan pembelajaran siklus I. Perbedaannya hanya pada pembentukan kelompok siklus II ini, siswa dibentuk ke dalam kelompok yang berbeda. Sehingga mereka akan merasakan suasana baru.
Kegiatan pembelajaran siklus II berjalan dengan baik dan perhatian siswa sedikit lebih meningkat meskipun masih ada beberapa siswa tertentu yang memang kurang serius dalam belajar, sehingga hasil ujian mereka pun kurang memuaskan.
c. Refleksi siklus III
Pada pembelajaran siklus III juga sama dengan pembelajaran siklus I dan II. Perbedaannya hanya pada pembentukan kelompok siklus II ini. Sama seperti pada siklus II, pada siklus III ini siswa dibentuk ke dalam kelompok yang berbeda. Agar mereka merasakan suasana baru.
Kegiatan pembelajaran siklus III berjalan dengan sangat baik dan perhatian siswa lebih meningkat meskipun masih ada siswa yang memang malas kurang serius dalam belajar, sehingga hasil ujian mereka pun kurang memuaskan.
















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dalam bab-bab terdahulu maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Hasil belajar siswa pada kelas X3 yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menunjukkan bahwa pada tes siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 52 dengan standar deviasi 11,11 dan skor tertinggi adalah 85. Tes siklus II nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 59,25 dengan standar deviasi 10,81 dan skor tertinggi adalah 85. Dan tes siklus III nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 68,625 dengan standar deviasi 10,78 dan skor tertinggi adalah 90.
2. Pada hasil ujian mata pelajaran geografi semester I siswa kelas X SMA Negeri 2 Pinrang nilai rata-rata yang dicapai adalah 50,05. sedangkan tes siklus III nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 68,625. Hal ini menunjuikkan bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar siswa kelas X pada mata pelajaran geografi dengan menggunakan model kooperatif tipe jigsaw.
3. Perubahan sikap siswa pada setiap siklus : siswa yang hadir pada saat pembelajaran pada siklus I 96,6%, siklus II 99%, dan siklus III 100%. Siswa yang memperhatikan pembahasan materi pada siklus I 37,5%, siklus II 48,75% dan siklus III 85%. Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembahasan materi siklus I 62,5%, siklus II 51,25%, siklus III 17,5%. Siswa yang menjawab pada saat diajukan pertanyaan tentang materi pelajaran pada siklus I 5%, siklus II 10% dan siklus III 15%. Siswa yang meminta untuk dijelaskan kembali suatu konsep yang telah dibahas pada siklus I 6,25%, siklus II 6,25%, siklus III 3,75%. Siswa yang mengajukan pertanyaan pada saat pembelajaran pada siklus I 6,25%, siklus II 7,5% dan siklus III 15%. Siswa yang bekerjasama dan berpartisipasi dalam kelompoknya pada siklus I 28,75%, siklus II 42,5% dan siklus III 87,5%.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta kesimpulan yang telah diuraikan, maka dibawah ini akan dikemukakan beberapa saran yaitu sebagai berikut:
1. Diharapkan kepada guru mata pelajaran geografi menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw agar prestasi belajar geografi siswa dimasa-masa yang akan datang lebih baik
2. Diharapkan kepada pendidik khususnya guru geografi dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw agar dapat memotivasi dan menarik perhatian siswa dalam belajar utamanya dalam perubahan sikap siswa.


3. Bagi peneliti selanjutnya yang berminat pada penelitian tindakan kelas agar bisa lebih mengembangkan hasil penelitian ini pada pokok bahasan dan lokasi yang berbeda agar memperoleh wawasan yang lebih luas dalam meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran geografi


















DAFTAR PUSTAKA


Alfandi, Widodo. 2001. Epistimologi Geografi. Universitas Gadja Mada Press : Yogyakarta.

Blanchard, Alan. 2001. Contextual teching and Leraning. UNS : Surabaya.

BPS Sulsel. 2007. Kabupaten Pinrang Dalam Angka. Badan Pusat Statistik : Makassar.

Depdikbud. 1993. Evaluasi Dan Penilaian. Protek peningkatan mutu guru dirjen DIKNASMEN : Jakarta.

Hafid, Mamat. 1999. Kamus Geografi. PT Remaja Rosdakarya : Bandung

Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. UNESA : Bandung.

Isjoni. 2007. Cooperative Learning (Efektifitas Pembelajaran Kelompok). Alfabeta : Bandung.

Johnson, Elaine. 2007. Contextual Teaching and Learning. MLC : Bandung.

Kusnadi, Rachmat. 2000. Geografi Untuk Sma Kelas I. PT Grafindo Media Pratama : Bandung.

Marah Uli dan Mulyadi, Asep. 2007. Geografi Untuk SMA dan MA Kelas X. Esis :
Jakarta.

Marbun, 2004. Ensiklopedia Geografi. Yudhistira : Bogor.

Muhammad Nur. 2001. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual. UNS : Surabaya

Muslich, Mansur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual.
Bumi Aksara : Jakarta.

Oemar Hamalik. 2007. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara : Jakarta

Sagala, Syaiful. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. CV Alfabeta : Bandung.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta :
Jakarta
Solihatin, Etin dan Raharjo. 2007. Cooperative Learning (Analisis Model Pembelajaran IPS). UNS : Surabaya.

Supardi, Prof. 2007. Peneltian Tindakan Kelas. PT Bumi Aksara : Jakarta.

Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. PT Raja Grafindo : Jakarta.



































RIWAYAT HIDUP

MUHAMMAD ARSYAD COKE, lahir di Parepare tanggal 11 November 1984. Penulis adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Lahir dari buah cinta ayahanda Drs Coke Muhammad dan ibunda bernama Hj. Satriah Musa.
Penulis masuk Sekolah Dasar tahun 1991 di SD Negeri 42 Soreang Kec. Soreang kota Parepare, kemudian pada tahun 1995 pindah ke SD Negeri 43 Ujung Baru Kec.Soreang Kota Parepare dan menamatkan Sekolah Dasarnya di sana pada tahun 1997. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Parepare, kemudian tahun 1999 pindah ke SMP Negeri 1 Pinrang dan tamat tahun 2000. Penulis kemudian melanjutkan pendidikannya pada tahun yang sama di SMA Negeri 3 Parepare, dan pindah ke SMA Negeri 2 Pinrang pada tahun 2001 dan tamat di sekolah yang sama pada tahun 2003. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan studinya di Jurusan geografi FMIPA Universitas Negeri Makassar melalui jalur SPMB. Penulis merupakan salah satu mahasiswa penerima beasiswa BBM. Selain kegiatan akademik yang digeluti oleh penulis selama menjadi mahasiswa, Dia juga aktif di beberapa organisasi intern/ekstern yaitu : Pengurus DEMA Geografi FMIPA UNM periode 2006 – 2007, Pengurus IMAHAGI Kom. UNM 2005 – 2007, Pengurus KMKM 2006 – 2007, Pengurus KPMP W.T. SAWITTO Kab. Pinrang.




Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Komenter Kamu

Kumpulan Situs Penting
My Photo
Watampone
Dengan segala kerendahan hati kami mohon maaf atas segala kekurangan kami. Blog ini dibuat hanya untuk saling memberi sedikit informasi kepada teman-teman. Tak ada sedikitpun di dalamnya bertujuan untuk sebuah materil Berkarya tanpa batas, tanpa penindasan